Skip to main content

Liputan Jatim Bersatu

Kurangnya Pengawasan dari Kapolsek dan Polantas Simokerto, Warga Pertanyakan Tugas Polisi

Surabaya, Liputanjatimbersatu.com – Perempatan Jalan Kenjeran–Kapasari kembali menelan korban kecelakaan pada jam sibuk, Kamis (02/10/2025) sekitar pukul 17.29 WIB. Salah satu korban bahkan diketahui merupakan wartawan dari media Transpos.id.

 

Kejadian ini menimbulkan sorotan tajam terhadap kinerja jajaran Polantas Simokerto yang dinilai abai dalam melakukan pengaturan lalu lintas di kawasan padat kendaraan tersebut.

 

Menurut pantauan warga sekitar, arus lalu lintas di perempatan Kenjeran–Kapasari setiap sore memang selalu padat. Namun ironisnya, tidak tampak ada anggota polisi lalu lintas yang berjaga untuk mengurai kepadatan maupun mengantisipasi kecelakaan.

 

“Setiap jam pulang kerja, jalan ini sudah seperti lautan kendaraan. Kalau tidak ada polisi yang atur, pasti rawan kecelakaan. Kami heran kenapa Polantas jarang terlihat di sini,” ujar salah seorang warga Kapasari yang enggan disebutkan namanya.

 

Kritik juga datang dari pengguna jalan. Banyak pengendara menilai, minimnya kehadiran polisi di titik rawan membuat lalu lintas semakin semrawut. “Kalau ada polisi yang jaga, biasanya lebih tertib. Tapi belakangan jarang sekali ada yang terlihat. Padahal kami ini bayar pajak, harusnya negara hadir untuk melindungi rakyat,” keluh seorang pengendara motor.

 

Fenomena ini juga menimbulkan pertanyaan lebih besar mengenai tanggung jawab aparat kepolisian di tingkat sektor. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam berbagai kesempatan telah menegaskan bahwa polisi harus menjalankan fungsi utama sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat. Namun kenyataan di lapangan justru menunjukkan adanya kelalaian yang berdampak langsung pada keselamatan publik.

 

Perempatan Kenjeran–Kapasari sejatinya termasuk titik rawan kecelakaan di wilayah hukum Simokerto. Berdasarkan catatan warga, sudah beberapa kali terjadi insiden di lokasi tersebut akibat padatnya arus kendaraan dan kurangnya pengaturan lalu lintas.

 

Hingga berita ini diterbitkan, pihak Kapolsek Simokerto maupun jajaran Polantas Simokerto belum memberikan klarifikasi resmi terkait kecelakaan ini maupun soal absennya pengawasan di jam sibuk. Kondisi tersebut semakin mempertegas keresahan warga, yang menuntut agar pihak kepolisian segera mengambil langkah nyata untuk mencegah kejadian serupa terulang.

 

Masyarakat menunggu adanya jawaban sekaligus evaluasi kinerja aparat di lapangan. Sebab, keselamatan publik bukan sekadar retorika, melainkan kewajiban yang harus diwujudkan melalui pengawasan nyata, terutama di titik-titik rawan kecelakaan.

More To Explore

Fashion

Asa Penjual dan Pengrajin di Balik Redupnya Tren Batu Akik: Tetap Bertahan, Andalkan Kualitas dan Hubungan Baik dengan Pelanggan

Surabaya, LiputanJatimBersatu.com – Batu Akik “tidak bersinar” seperti dulu lagi. Bukan soal batunya, tapi soal trennya. Redupnya tren Batu Akik memang terlihat beberapa tahun belakangan. Berbeda dengan periode 2014-2015 silam. Di mana demam Batu Akik menular di seluruh wilayah Indonesia. Termasuk di Kota Surabaya   Di ibukota Propinsi Jawa Timur

Fashion

Pererat Silaturahmi Ke Tokoh Ulama, Kapolres Sampang Gelar Baksos Air Bersih di Ponpes Miftahut Thullab dan Salurkan Bantuan ke Warga

Sampang – Liputanjatimbersatu.com. Kapolres Sampang AKBP Anang Hardiyanto, S.I.K., melaksanakan kegiatan silaturahmi Kamtibmas sekaligus bakti sosial (baksos) di Pondok Pesantren (Ponpes) Miftahut Thullab (Ponpes Gedangan), Desa Daleman, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, pada Rabu (12/08/2026) pagi.   Kegiatan yang dimulai pukul 09.35 WIB ini bertujuan untuk memperkuat sinergi antara Kepolisian dan