Surabaya, LiputanJatimBersatu,com. Bertemanlah dengan siapa pun, tetapi jangan pernah sepenuhnya percaya pada siapa pun. Kalimat ini bukan sekadar ungkapan sinis, melainkan cermin jujur realitas sosial hari ini. Persahabatan kerap dipuja sebagai ikatan tulus, namun acap kali rapuh ketika berhadapan dengan kepentingan, kekuasaan, dan keuntungan pribadi.
Tak sedikit orang tampak setia selama keadaan aman dan menguntungkan. Namun saat posisi terancam, nama baik dipertaruhkan, atau peluang keuntungan muncul, watak asli perlahan tersingkap. Pengkhianatan jarang lahir dari kebencian semata; ia tumbuh dari ego dan ketakutan akan kehilangan. Ironisnya, ia sering datang dari mereka yang paling dekat orang-orang yang mengetahui kelemahan dan menyimpan rahasia kita.
Realitas ini menuntut kewaspadaan. Terlalu percaya adalah celah, terlalu terbuka adalah risiko. Dalam pergaulan modern yang sarat kepentingan, persahabatan kerap bersifat sementara dan transaksional. Hari ini kawan seperjalanan, esok bisa menjadi lawan ketika arah kepentingan berseberangan.
Bukan berarti hidup harus dijalani dengan kecurigaan berlebihan atau memusuhi semua orang. Berteman tetaplah perlu, tetapi kepercayaan harus diberi batas dan ditopang akal sehat. Kepercayaan bukan hadiah karena kedekatan, melainkan hasil dari konsistensi sikap dan integritas yang teruji waktu.
Pada akhirnya, kehati-hatian adalah bentuk perlindungan diri. Sebab sejarah berulang kali membuktikan, tidak semua yang berjalan bersama akan setia sampai akhir. Dalam dunia yang keras dan penuh kepentingan, pengkhianatan bukan sekadar kemungkinan, melainkan sesuatu yang selalu menunggu saatnya tiba.
By Mahrus

