Surabaya, liputanJatimBersatu,com. Puluhan massa yang tergabung dalam Forum Pemuda Solidaritas Merah Putih (FPSMP) menggelar aksi demonstrasi di depan Balai Kota Surabaya pada Kamis (25/9/2025). Aksi ini mengusung seruan “Darurat Korupsi di Surabaya” sebagai bentuk perlawanan moral terhadap maraknya dugaan praktik korupsi di lingkungan pemerintahan kota.
Massa datang dengan atribut lengkap spanduk, poster, dan pengeras suara sambil meneriakkan yel-yel anti korupsi. Sejumlah tulisan provokatif seperti “Surabaya Darurat Korupsi”, “Bersihkan Mafia Anggaran”, dan “APBD untuk Rakyat, Bukan untuk Kantong Pribadi” tampak menghiasi aksi.
Dugaan Kebocoran Anggaran
Koordinator FPSMP menilai Surabaya tengah berada dalam kondisi darurat karena tata kelola pemerintahan dianggap tidak transparan. Mereka menyoroti dugaan adanya kebocoran anggaran pada sejumlah proyek dan program, mulai dari infrastruktur, bansos, hingga pengadaan barang dan jasa.
“Setiap tahun triliunan rupiah dari APBD Surabaya digelontorkan, tapi fakta di lapangan masih banyak jalan rusak, drainase buruk, dan proyek asal-asalan. Ini tanda kuat bahwa anggaran tidak digunakan sebagaimana mestinya. Kami menduga ada permainan kotor yang harus dibongkar,” tegas orator dari atas mobil komando.
Tuntutan kepada Pemkot, DPRD, dan Aparat
Dalam pernyataannya, FPSMP mendesak Wali Kota Surabaya untuk membuka transparansi penggunaan anggaran publik serta memastikan setiap proyek benar-benar berpihak pada kepentingan masyarakat. Mereka juga menuntut DPRD Surabaya agar menjalankan fungsi pengawasan secara serius, bukan hanya menjadi “stempel” kebijakan eksekutif.
“DPRD harus berani, jangan hanya duduk manis dan ikut arus. Mereka dipilih rakyat, maka sudah seharusnya mereka berpihak kepada rakyat, bukan kepada mafia anggaran,” lanjutnya.
Selain itu, FPSMP juga menekan aparat penegak hukum, baik Kepolisian maupun Kejaksaan, agar tidak tebang pilih dalam menangani kasus korupsi. Menurut mereka, penegakan hukum selama ini cenderung hanya menyasar kasus-kasus kecil, sementara aktor besar yang diduga terlibat tetap bebas berkeliaran.
Surabaya dalam Bayang-Bayang Skandal
Aksi ini tidak muncul tanpa alasan. Dalam beberapa tahun terakhir, publik kerap dihebohkan oleh isu dugaan korupsi di tubuh Pemkot Surabaya. Mulai dari proyek infrastruktur yang bermasalah, dugaan penyalahgunaan dana bansos, hingga pengelolaan aset daerah yang tidak jelas.
Menurut FPSMP, jika situasi ini terus dibiarkan, Surabaya akan kehilangan kredibilitas sebagai kota besar yang dijadikan tolok ukur tata kelola pemerintahan. “Surabaya harus bersih, karena kota ini jadi simbol Jawa Timur bahkan Indonesia. Kalau di sini bobrok, bagaimana dengan daerah lain?” ujar salah satu peserta aksi.
Aksi Kondusif, Respons Pemkot Ditunggu
Aksi FPSMP berlangsung sejak pagi dengan pengawalan ketat aparat kepolisian. Hingga siang, situasi tetap kondusif meskipun orasi dilakukan dengan suara keras dan penuh kritik.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Pemerintah Kota Surabaya belum memberikan tanggapan resmi atas tuntutan yang disuarakan. Namun, koordinator FPSMP menegaskan mereka siap menggelar aksi lanjutan jika pemerintah kota maupun aparat penegak hukum tidak merespons serius tuntutan masyarakat.
Red

