Surabaya, LiputanJatimBersatu,com. Suasana aksi unjuk rasa yang digelar Forum Solidaritas Pemuda Mahasiswa Merah Putih (FSPMP) di depan Balai Kota Surabaya pada Kamis (25/9/2025) mendadak memanas. Pasalnya, demonstrasi yang awalnya berlangsung damai justru diwarnai dugaan intimidasi dari sejumlah oknum organisasi masyarakat (ormas) yang muncul di lokasi.
Dalam aksinya, FSPMP menyoroti berbagai persoalan di tubuh Pemerintah Kota Surabaya, termasuk isu korupsi, dugaan maladministrasi, serta kepemimpinan Wali Kota Eri Cahyadi yang dinilai gagal menuntaskan masalah-masalah mendasar masyarakat. Massa aksi juga menuntut agar wali kota bersikap tegas terhadap oknum pejabat yang terindikasi melakukan penyimpangan.
Namun, di tengah jalannya orasi, sejumlah orang yang mengaku bagian dari ormas tertentu diduga melakukan tindakan intimidatif terhadap peserta aksi. Beberapa saksi menyebut, oknum tersebut mencoba membubarkan massa dengan cara mendekati barisan demonstran, melontarkan kata-kata kasar, hingga mendorong sejumlah mahasiswa.
“Kami datang untuk menyuarakan aspirasi rakyat Surabaya, tapi justru dihadang dan ditekan oleh oknum yang tidak jelas kapasitasnya. Ini bentuk pembungkaman demokrasi,” tegas salah satu koordinator aksi di hadapan wartawan.
Aksi saling dorong pun sempat terjadi, sebelum semua pihak yang ada dilokasi melerai agar kericuhan tidak semakin meluas. Meski situasi akhirnya dapat dikendalikan, massa Solidaritas Pemuda Mahasiswa Merah Putih menyayangkan sikap aparat yang dinilai lamban merespons intimidasi tersebut.
Mereka menuntut Wali Kota Surabaya tidak hanya mendengarkan aspirasi publik, tetapi juga berani bersikap tegas terhadap kelompok-kelompok yang mencoba menghalangi jalannya kebebasan berpendapat.
“Jika pemerintah kota diam saja, berarti ada pembiaran terhadap praktik premanisme politik yang jelas-jelas mengancam ruang demokrasi,” tambahnya.
Hingga aksi bubar, massa berjanji akan kembali turun ke jalan jika tuntutan mereka tidak digubris. Mereka menegaskan, perjuangan menolak segala bentuk penyimpangan dan menuntut kepemimpinan bersih di Surabaya akan terus berlanjut.
Redaksi

