Surabaya, LiputanJatimBersatu.com. Di tengah derasnya arus materialisme dan gaya hidup serba pamer, nilai persahabatan kembali dipertanyakan. Relasi yang dahulu dibangun atas dasar ketulusan dan solidaritas kini tak jarang runtuh hanya karena persoalan uang. Fenomena ini menjadi cermin buram bahwa integritas kian tergerus oleh kepentingan finansial.
Persahabatan sejatinya berdiri di atas fondasi kepercayaan, empati, dan komitmen untuk saling menjaga. Namun ketika uang masuk tanpa batas yang jelas, hubungan setara berubah menjadi relasi transaksional. Kedekatan tak lagi dimaknai sebagai ruang berbagi, melainkan peluang memanfaatkan akses dan keuntungan.
Imam Arifin, Ketua Fast Respon Indonesia Center DPW Jawa Timur, menilai pergeseran ini tak lepas dari tekanan ekonomi dan budaya konsumtif yang semakin menguat. Media sosial, menurutnya, kerap mempertontonkan standar kesuksesan yang identik dengan kemewahan dan capaian materi.
“Ketika uang menjadi prioritas utama dalam relasi, maka persahabatan hanya tinggal nama,” tegasnya.
Perselisihan akibat utang-piutang antar sahabat bukan lagi cerita langka. Banyak kasus yang berujung pada konflik berkepanjangan, bahkan merambah ranah hukum baik perdata maupun pidana. Semua berawal dari satu titik krusial: hilangnya komitmen menjaga batas antara urusan finansial dan nilai pertemanan.
Dalam perspektif moral, uang hanyalah alat, bukan tujuan akhir. Ia dapat mempererat hubungan jika dikelola secara transparan dan disepakati bersama. Namun tanpa integritas, uang berubah menjadi pemantik perpecahan, bahkan penghancur kepercayaan yang telah dibangun bertahun-tahun.
Bersahabat bukan tentang besar kecilnya bantuan materi, melainkan tentang kesediaan untuk hadir tanpa pamrih. Ketika kepercayaan mulai dihitung dalam nominal rupiah, maka yang tersisa hanyalah kepentingan yang menunggu momentum untuk saling menuntut.
Masyarakat diingatkan untuk bijak memisahkan relasi pribadi dan urusan finansial. Perjanjian tertulis dalam pinjam-meminjam bukan bentuk ketidakpercayaan, melainkan langkah preventif agar hubungan tetap terjaga dan tidak mudah goyah oleh kesalahpahaman.
Pada akhirnya, persahabatan sejati tak bisa dibeli, apalagi diperjualbelikan. Uang bisa dicari kembali, tetapi kepercayaan yang hancur sering kali tak pernah utuh seperti semula.
Anugrah

