Skip to main content

Liputan Jatim Bersatu

Tatapan yang Membawa ke Mimpi: Ketika Perasaan Berbicara Tanpa Kata

Surabaya, LiputanJatimBersatu.com. Di dunia yang semakin bising oleh kata-kata, sering kali justru perasaan yang paling tulus memilih bersembunyi dalam diam. Tidak semua rasa lahir untuk diucapkan. Ada yang hanya berani hidup dalam tatapan, lalu perlahan mengendap menjadi kenangan.

Kadang, seseorang hanya mampu berkata dalam hatinya sendiri: “Ketika ku menatap wajahmu, seakan aku terbawa ke dalam mimpi yang sangat indah.” Sebuah kalimat sederhana, namun menyimpan pergulatan batin yang tidak ringan. Sebab di balik tatapan itu ada perasaan yang tumbuh, tetapi tidak selalu memiliki keberanian untuk menjadi pengakuan.

Realitas kehidupan sering kali lebih keras dari apa yang diinginkan hati. Ada jarak, ada keadaan, ada batasan yang membuat seseorang memilih memendam daripada merusak keseimbangan yang sudah ada. Akhirnya, perasaan itu hanya hidup dalam ruang sunyi—cukup dengan melihat, cukup dengan memahami, tanpa harus memiliki.

Ironisnya, di tengah zaman yang serba terbuka ini, banyak orang justru semakin sulit mengungkapkan isi hatinya. Bukan karena tidak memiliki rasa, tetapi karena terlalu banyak pertimbangan yang akhirnya membuat keberanian itu hilang sebelum sempat lahir.

Tatapan pun menjadi bahasa paling jujur yang tersisa. Ia tidak bisa berbohong, tetapi juga tidak bisa menuntut. Dalam satu pandangan singkat, seseorang bisa merasakan kedamaian yang tak dapat dijelaskan, seolah berada di dalam mimpi yang indah—mimpi yang ia tahu mungkin tidak akan pernah menjadi kenyataan.

Namun di situlah letak kejujuran perasaan manusia. Tidak semua cinta harus dimiliki. Tidak semua rasa harus diperjuangkan sampai akhir. Ada yang cukup disimpan sebagai bagian dari perjalanan hidup, sebagai bukti bahwa hati manusia masih mampu merasakan sesuatu yang begitu dalam.

Karena pada akhirnya, ada tatapan yang hanya ditakdirkan menjadi kenangan—indah, namun tidak pernah benar-benar menjadi cerita.

 

More To Explore

Fashion

Imam Arifin Tantang Bantahan Kapolsek soal Laporan 110: Saya Sendiri yang Menghubungi, Mengapa Dibantah?

Surabaya, LiputanJatimBersatu.com- Bantahan Kapolsek yang menyebut tidak ada pihak menghubungi layanan darurat kepolisian 110 menuai tanggapan dari Imam Arifin, Ketua Fast Respon Indonesia Center (FRIC) DPW Jawa Timur sekaligus Pimpinan Redaksi LiputanJatimBersatu. Imam secara tegas menyatakan bahwa dirinya telah tiga kali menghubungi layanan 110 untuk melaporkan dugaan pencurian kabel milik

Fashion

Imam Arifin Soroti Hak Jawab Kapolsek Krembangan di Media Lain: Media Pertama Juga Harus Diberi Ruang Klarifikasi

Surabaya, LiputanJatimBersatu.com– Imam Arifin, Ketua Fast Respon Indonesia Center (FRIC) DPW Jawa Timur sekaligus Pimpinan Redaksi LiputanJatimBersatu, menyayangkan langkah Kapolsek Krembangan yang menyampaikan bantahan melalui media lain, sementara media yang pertama kali memuat pemberitaan tersebut, menurut Imam, juga seharusnya mendapat kesempatan untuk meminta klarifikasi secara langsung. Menurut Imam, apabila Kapolsek