Skip to main content

Liputan Jatim Bersatu

Kasus Amir Kian Memanas, Dampak Psikologis Anak Jadi Alarm Keras Bagi Penegak Hukum

Mojokerto, LiputanJatimBersatu.com — Kasus dugaan pemerasan yang menjerat Amir bukan hanya menjadi sorotan publik, tetapi juga mulai menunjukkan dampak serius di luar ruang hukum. Di balik proses yang kini ditangani Satreskrim Polres Kabupaten Mojokerto, terdapat sisi lain yang tak kalah mengkhawatirkan: kondisi psikologis kedua anak Amir yang terancam terganggu.

Tim kuasa hukum yang dipimpin Rikha Permatasari, S.H., M.H., C.Med., C.LO., C.PIM., menilai bahwa penanganan perkara ini tidak bisa dilepaskan dari dampak sosial yang ditimbulkan. Saat mendatangi tempat kerja mantan istri Amir, mereka menemukan fakta yang dinilai memprihatinkan.

Anak kedua Amir yang masih berusia 14 tahun tampak mengalami tekanan mental. Ia sulit diajak berkomunikasi, lebih banyak melamun, bahkan membutuhkan waktu lama untuk sekadar menjawab pertanyaan sederhana. Kondisi ini memunculkan dugaan kuat adanya beban psikologis akibat viralnya penangkapan sang ayah oleh Unit Resmob Polres Mojokerto.

Situasi tak jauh berbeda dialami anak pertama yang kini berusia 17 tahun. Meski kerap mendampingi ibunya bertemu jurnalis, sikap canggung, tertutup, dan rasa minder masih terlihat jelas. Ini menjadi indikasi bahwa tekanan sosial akibat kasus tersebut telah merambah kehidupan pribadi keluarga.

Dalam pernyataannya kepada awak media, dengan suara terbata-bata, anak tersebut menyampaikan harapan sederhana namun penuh makna: agar ayahnya bisa dibebaskan. Sebuah harapan yang kini seolah menggantung di tengah proses hukum yang masih berjalan.

Di sisi lain, mantan istri Amir menegaskan bahwa meskipun sudah tidak lagi hidup serumah, Amir selama ini tetap bertanggung jawab memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Fakta ini semakin memperkuat bahwa persoalan ini bukan sekadar perkara hukum, melainkan menyangkut keberlangsungan hidup dan masa depan anak.

Melihat kondisi tersebut, tim kuasa hukum menegaskan bahwa perkara ini tidak boleh dipandang secara sempit. Mereka berencana menggandeng Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi, guna memastikan adanya pendampingan serius terhadap kondisi mental anak-anak Amir.

“Ini bukan hanya soal hukum, tapi soal kemanusiaan. Jangan sampai anak-anak menjadi korban dari proses yang belum tentu sepenuhnya benar. Jika dibiarkan, dampaknya bisa jangka panjang,” tegas Rikha.

Kasus ini pun kini menjadi ujian bagi aparat penegak hukum: apakah penanganannya akan tetap berpegang pada prinsip keadilan yang utuh, atau justru mengabaikan dampak sosial yang nyata di depan mata.

Bersambung

More To Explore

Fashion

Imam Arifin Sentil Polsek Krembangan soal Laporan 110: Jangan Tunggu Laporan, Polisi Harus Peka!

Surabaya, LiputanJatimBersatu.com- Pernyataan Kanit Reskrim Polsek Krembangan yang menyebut belum ada laporan terkait dugaan pencurian kabel yang disebut milik PT Telkom Indonesia di kawasan Moro Krembangan, Surabaya, menuai kritik dari Ketua Fast Respon Indonesia Center (FRIC) DPW Jawa Timur, Imam Arifin. Imam mempertanyakan respons pelayanan kepolisian ketika muncul informasi dugaan

Fashion

Aksi di Jakarta Berjalan Damai, Polda Metro Jaya Apresiasi Masyarakat

JAKARTA, LiputanJatimBersatu.com- Rangkaian aksi penyampaian aspirasi di kawasan Gedung DPR/MPR RI, Silang Monas, dan sejumlah titik lainnya di Jakarta, Selasa (20/10/2026), berlangsung damai. Polda Metro Jaya menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang turut menjaga keamanan dan ketertiban selama kegiatan. Kabidhumas Polda Metro Jaya Kombes Pol. Budi Hermanto menyampaikan terima kasih