Surabaya, LiputanJatimBersatu.com – Batu Akik “tidak bersinar” seperti dulu lagi. Bukan soal batunya, tapi soal trennya. Redupnya tren Batu Akik memang terlihat beberapa tahun belakangan. Berbeda dengan periode 2014-2015 silam. Di mana demam Batu Akik menular di seluruh wilayah Indonesia. Termasuk di Kota Surabaya
Di ibukota Propinsi Jawa Timur pusat Batu Akik di Pasar Turi dan jalan Kayoon Sepanjang jalan pasar Turi dekat pemadam kebakaran Di kiri kanan jalan, dengan modal meja kayu, para penjual ini berjejer memadati sempadan.
Mereka tidak hanya menjual, tapi ada juga yang memproduksi cincin dan perhiasan lainnya. Para pengrajin Batu Akik ini bermodal alat potong dan juga alat untuk mengasah batu akik yakni mesin gerinda.
Waktu berlalu, bagaikan penyakit demam yang lambat laun mendingin, tren juga ikut mendingin. Sinaran tren Batu Akik tak sekuat dulu meredup
Namun tidak sedikit penjual dan pengrajin Batu Akik tetap bertahan dan berjualan di tepi jalan Seorang pedagang dan pengrajin Batu Akik, Redho di pasar Turi Surabaya berbagi cerita. Kepada media dia mengungkapkan sejak tren batu akik meredup banyak pedagang memilih beralih profesi. Namun, bagi dirinya yang sudah berjualan sejak 2013 di Kota Surabaya, usaha ini tetap menjadi sumber penghidupan utamanya, meski pendapatannya tak lagi sebesar dulu.
“Saya mulai jualan di sini sejak 2013,”ujar Redho.
Redho mengakui bahwa pendapatannya kini jauh berbeda dibandingkan saat batu akik pertama kali booming. “Kalau dulu bisa dibilang setiap hari ada pembeli, sekarang paling kadang-kadang saja,” katanya.
Meski begitu, ia tetap bersyukur karena masih ada pelanggan setia yang datang mencari batu tertentu dan untuk modal, Redho mengungkapkan bahwa kini ia tak perlu mengeluarkan dana besar seperti dulu. “Kalau dulu modal bisa jutaan untuk stok batu, sekarang cukup ratusan ribu saja. Saya ambil seperlunya, sesuai permintaan,” jelasnya.
Namun, menurutnya, harga jual batu akik saat ini sering kali tidak sebanding dengan biaya operasional. “Kadang hasil jual cuma cukup buat ganti modal. Untungnya tipis, tapi masih bisa bertahan,” katanya.
Redho menjelaskan bahwa harga jual batu akik telah mengalami penurunan signifikan dibanding masa kejayaannya. “Kalau dulu batu jenis tertentu bisa laku sampai ratusan ribu, sekarang paling sepuluh ribu juga orang sudah mikir-mikir,” ujarnya sambil tersenyum pahit.
Meski keuntungan berkurang, ia tetap menjalankan usahanya dengan penuh semangat. “Ya, namanya usaha, tetap dijalani saja. Walaupun hasilnya sekarang tidak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan, tapi daripada nganggur,” tambahnya.
Terkait tempat berjualan, Redho mengatakan bahwa lokasi tempatnya berdagang merupakan tempat sewa. “Iya, ini tempat sewa. Sekarang biaya sewanya malah turun dibanding beberapa tahun lalu,” ujarnya.
Ia menilai penurunan harga sewa sedikit membantu karena bisa mengurangi beban biaya tetap setiap bulan. “Kalau sewanya masih mahal seperti dulu, mungkin saya sudah berhenti jualan,” katanya.
Meski demikian, penurunan biaya sewa tidak serta merta meningkatkan pendapatannya secara signifikan. “Pendapatan tetap tergantung pembeli. Kalau ramai, lumayan. Tapi kalau sepi, ya seadanya saja,” ucapnya.
Menurut Redho faktor utama yang membuat pendapatan pedagang batu akik menurun adalah tren pasar yang sudah berubah. “Sekarang orang lebih tertarik ke hal-hal digital, gadget, atau aksesoris modern. Batu akik sudah jarang dilirik,” katanya.
Untuk bertahan, ia kini mengandalkan strategi sederhana: menjaga kualitas batu dan membangun hubungan baik dengan pelanggan. “Saya tetap jaga kepercayaan pembeli. Kadang ada yang pesan batu khusus, saya carikan. Itu yang bikin pelanggan masih datang,” tutur Redho menutup pembicaraan.
(Mil).

