Surabaya, -LiputanJatimBersatu,com. menindak lanjuti atas adanya informasi yang dianggap menyimpang atau pungli di lembaga pemasyarakatan kanwil Jatim, Rutan kelas I Surabaya kembali didengar adanya permintaan uang secara paksa terhadap warga binaan didalam.
Hal itu seperti yang di himpun oleh Liputajatimbersatu.com, bahwa pada hari Sabtu (21/06) telah mendapatkan informasi dari mantan warga binaan Rutan kelas I Surabaya berinisial A, ia menceritakan bahwa setiap orang yang tidak mau pindah ke lapas harus membayar 1 juta dalam perminggu.
“Sementara jika orang itu sudah habis masa tahapan proses di Rutan itu harus di pindah ke lapas, bukan harus malah membayar,” jelas sumber,
Dalam pandangan A. mantan napi di Rutan kelas I Surabaya itu mengaku bahwa setiap orang yang sudah berproses atau habis masa perjalanan di Rutan itu harus pindah di Lapas yang sudah di tentukan petugas.
“Bukannya orang tersebut dijadikan ATM berjalan oleh sipir Rutan kelas I Surabaya yang harus membayar 1 juta dalam setiap Minggu.” Katanya.
Menurutnya, saya juga prihatin dalam peristiwa yang sering menimpa pada warga binaan di Rutan kelas I Surabaya, selain ada tekanan dari petugas juga ada intimidasi terhadap para napi yang baru di layar dari kepolisian.
“Napi yang sudah dipindah ke Rutan harus menjalani aturan seperti di karantina selama 1 bulan, jika orang itu ingin turun harus membayar 1500.000 kepada petugas supaya tidak di karantina.” Ujar A.
Dengan banyaknya kejanggalan di Rutan kelas I Surabaya atas pungutan liar yang dilakukan petugas, media ini mencoba konfirmasi masih salah satu petugas bernama Simatupang atas adanya kebobrokan kinerja sipir yang sudah meminta uang terhadap warga binaan.
Justru Simatupang terus mengelak atas tudingan menerima uang jutaan dari warga binaan bahkan Simatupang mengalihkan pertanyaan ke sipir lain, karena ini tupoksinya saya mas.
“Coba pean (kamu) temui Gorsi Kasi Yantah, dia yang berperan semua itu atau sebagai penanggung jawab.” Paparnya Simatupang.
Saat di temui Gorsi kepada media ini mempertanyakan siapa yang menerima uang tersebut dan siapa korban yang diminta uang oleh petugas Rutan kelas I Surabaya.
Endingnya, Gorsi ini lepas kontrol dihadapan sejumlah wartwan dengan nada lantang, Gorsi mengatakan kalau orang cina ya gak apa-apa kalau menerima uang dek-dekan,
“Karena saya minta bantu kepada cina dan ia (Cina) pun juga membutuhkan bantuan saya.” jelas (Gorsi-red)
Dengan hal yang sudah tidak manusiawi ini di Rutan Kelas I Surabaya. kami sebagai control sosial yang artinya juga membatu pemerintah dan kepolisian di Indonesia, Karutan harus bertindak tegas atas adanya laporan masyarakat terkait anggota yang terlibat pungli.
“Kami berharap kepada Karutan Kelas I Surabaya, Tomi Elyus untuk segera menyikapi dan menindak lanjuti anggota yang sudah dira melanggar dan mencederai nama pejabat Rutan Kelas I Surabaya.” Pungkasnya.
Anugrah

