Surabaya, LiputanJatimBersatu,com Suasana di kawasan Jalan Arimbi Gang III, Surabaya, mendadak ricuh pada Jumat malam (10/10/2025) sekitar pukul 23.45 WIB. Sejumlah anggota Satuan Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Jawa Timur melakukan penggerebekan di sebuah rumah kos yang diduga menjadi tempat mengkonsumsi narkoba. Namun, operasi tersebut berubah menjadi ketegangan setelah warga menilai polisi salah menangkap orang.
Menurut informasi yang dihimpun LiputanJatimBersatu.com di lokasi kejadian, penggerebekan dilakukan secara tiba-tiba. Beberapa anggota kepolisian berpakaian preman terlihat masuk ke dalam gang dengan cepat, sambil membawa surat perintah operasi. Beberapa menit kemudian, terdengar suara gaduh dari arah rumah kos yang menjadi sasaran penggerebekan.
Warga yang penasaran mulai keluar rumah untuk melihat apa yang terjadi. Tidak lama berselang, terlihat seorang pria diborgol dan digiring oleh petugas ke arah mobil yang terparkir di ujung gang. Namun, beberapa warga langsung bereaksi karena mengenali pria tersebut sebagai bukan penghuni kos melainkan warga sekitar yang kebetulan sedang melintas di depan lokasi penggerebekan.
“Orangnya cuma lewat, bukan anak kos itu. Tiba-tiba langsung ditarik dan diborgol tanpa dikasih tahu apa-apa. Warga jadi emosi karena kasihan, orang itu nggak salah,” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya kepada wartawan.
Ketegangan pun tidak terelakkan. Sejumlah warga menghadang petugas dan mempertanyakan dasar penangkapan tersebut. Beberapa orang bahkan mencoba mendekat untuk melihat kondisi pria yang diborgol, namun dihalangi oleh petugas bersenjata. Situasi kian memanas ketika warga meminta agar polisi segera melepaskan pria tersebut dan menjelaskan duduk perkaranya secara terbuka.
Salah satu warga lain menuturkan, kericuhan bermula karena tidak adanya penjelasan dari aparat terkait siapa sebenarnya target operasi.
“Kita cuma minta dijelaskan. Kalau salah tangkap, ya tolong diklarifikasi. Jangan asal main borgol di depan umum. Apalagi ini malam-malam, bikin panik orang satu kampung,” ucap warga lainnya dengan nada kesal.
Saksi mata juga menyebutkan bahwa sempat terjadi adu mulut antara petugas dan beberapa warga di Gang Arimbi III. Polisi mencoba menenangkan massa, namun sebagian warga tetap bertahan di lokasi hingga larut malam. Beberapa bahkan mengabadikan peristiwa itu menggunakan ponsel mereka. Suasana baru mulai mereda setelah aparat akhirnya meninggalkan lokasi bersama pria yang sudah diamankan.
Sementara itu, hingga Sabtu pagi (11/10/2025), sejumlah warga masih terlihat berkumpul di sekitar lokasi, membicarakan peristiwa tersebut. Banyak di antara mereka menyayangkan cara aparat melakukan tindakan yang dinilai kurang profesional dan terburu-buru, sehingga memicu kesalahpahaman dengan masyarakat.
Seorang tokoh pemuda setempat mengatakan, pihaknya berencana melaporkan peristiwa itu ke pihak berwenang untuk meminta klarifikasi.
“Kita bukan menentang polisi, tapi cara penangkapannya itu yang bikin warga marah. Kalau salah tangkap, nama orang bisa rusak, padahal dia nggak tahu apa-apa,” ujarnya.
Redaksi Media liputanJatimBersatu,com. Mencoba mengkonfirmasi kepada Kasubdit I AKBP Windy melalui WhatsApp messenger pribadinya.
“Masih proses pemeriksaan. Nanti senin di lakukan Gelar perkara untuk mengetahui fakta di lapangan setelah di lakukan pemeriksaan saksi-saksi yg sudah di amankan.” Ujar Wendy
Sampai berita ini ditayangkan, pihak Polda Jawa Timur belum memberikan pernyataan resmi terkait peristiwa tersebut, termasuk dugaan salah tangkap yang mencuat di kalangan warga. Upaya konfirmasi yang dilakukan redaksi melalui pesan singkat kepada salah satu pejabat Ditresnarkoba Polda Jatim juga belum mendapat tanggapan.
Warga berharap agar aparat penegak hukum lebih berhati-hati dan transparan dalam menjalankan tugasnya, terutama ketika melakukan operasi di kawasan padat penduduk. Mereka menilai, tindakan yang dilakukan tanpa komunikasi yang jelas berpotensi menimbulkan keresahan dan mencederai kepercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian.
“Kita mendukung pemberantasan narkoba, tapi jangan sampai orang yang nggak bersalah jadi korban. Itu yang bikin warga marah,” tutup salah satu warga Arimbi dengan nada kecewa.
Redaksi