Surabaya, liputanJatimBersatu.com. Alasan cemburu kembali dijadikan pembenaran untuk aksi brutal. Seorang pria berinisial HK (44), warga Bulak Banteng, Surabaya, nekat menghabisi nyawa Hasan (37) hanya karena menemukan foto korban di ponsel istrinya. Peristiwa ini menjadi potret nyata bagaimana emosi tak terkendali berubah menjadi tindak kriminal berdarah.
Ironisnya, aksi pembunuhan ini bukan dilakukan secara spontan, melainkan direncanakan. HK bahkan melibatkan tiga rekannya SR, I, dan S, yang hingga kini masih buron. Fakta ini menegaskan bahwa pembunuhan tersebut bukan sekadar luapan emosi sesaat, melainkan kejahatan terorganisir.
Kasatreskrim Polres Pelabuhan Tanjung Perak melalui Kasi Humas mengungkapkan, kecemburuan pelaku bermula saat ia membuka ponsel istrinya dan menemukan foto korban. Alih-alih menyelesaikan persoalan secara bijak, pelaku justru memilih jalur kekerasan.
Lebih memprihatinkan lagi, pelaku sempat menguntit korban, mencari informasi pekerjaan, hingga akhirnya menyusun rencana penyerangan. Dengan membawa celurit dan dukungan rekannya, pelaku menunggu momen yang dianggap tepat untuk mengeksekusi korban.
Aksi sadis itu terjadi di Jalan Sidotopo Sekolahan II Tanpa peringatan, korban diserang secara membabi buta hingga tewas di tempat. Sebuah tindakan keji yang menunjukkan betapa murahnya nyawa manusia di mata pelaku.
Kasus ini juga menyoroti masih maraknya penggunaan senjata tajam dalam konflik pribadi di masyarakat. Pertanyaannya, di mana peran lingkungan dan aparat dalam mencegah potensi kekerasan yang sudah terlihat sejak awal?
Meski pelaku utama telah ditangkap di kawasan Kalimas, Surabaya, pekerjaan rumah aparat belum selesai. Tiga pelaku lain masih berkeliaran bebas, menjadi ancaman nyata bagi keamanan publik.
Peristiwa ini menjadi pengingat keras bahwa kecemburuan bukan alasan untuk menghilangkan nyawa. Ketika konflik pribadi diselesaikan dengan kekerasan, maka yang lahir bukan keadilan, melainkan tragedi.
Anugrah/ Red

