Surabaya, LiputanJatimBersatu.com-Dunia seni pertunjukan Madura kehilangan salah satu maestro terbaiknya. Sosok legendaris Orkes Putra Buana, Almarhum H. Salim yang akrab disapa Jamal, dikenang sebagai figur panggung dengan totalitas tanpa batas.
Almarhum H. Salim asal Desa Batu Karang, Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang, terjun ke dunia Orkes Putra Buana sejak tahun 1992.
Ia dikenal lewat aksi drama panggungnya yang ikonik, seperti lakon Sanjungan Jiwa, Bajak Sakera, dan berbagai drama panggung lainnya. Penguasaannya di atas panggung tidak diragukan, selain piawai memerankan tokoh anak melas, ia juga sangat menjiwai peran antagonis atau orang jahat.
Di luar panggung, almarhum dikenal sebagai sosok pendiam dan sopan.
Putra pertamanya, Yudi Hermansyah, mengenang kepergian sang ayah. Menurutnya, H. Salim wafat pada tahun 2011 di RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
“Almarhum dinyatakan meninggal karena pembuluh darah pecah akibat tekanan darah tinggi kronis yang merusak dan menipiskan dinding arteri, ia tidak dapat ditolong. Ia meninggal di siang hari. H. Salim dimakamkan di Desa Batu Karang, Sampang,” ujar Yudi, Minggu (25/10/2026).
Kepergian H. Salim meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan para penggemar Putra Buana, namun warisannya tetap abadi.
“Meninggalkan dunia bukanlah akhir dari kenangan, tetapi awal dari warisan yang abadi. Dunia mungkin kehilangan ragamu, tetapi sejarah dan inspirasi yang kaubagikan akan terus hidup selamanya,” Pungkasnya
(Amsory)

