Skip to main content

Liputan Jatim Bersatu

Mengapa Allah Tidak Menjodohkan Qais dan Layla? Cinta yang Terlalu Suci Untuk Dunia

Surabaya, LiputanJatimBersatu.com Kisah Qais dan Layla sudah berabad-abad menjadi simbol cinta paling tragis dalam sejarah sastra Arab dan Islam. Saling mencintai, saling merindukan, tapi tak pernah bersatu dalam pernikahan.

Lalu muncul pertanyaan yang sampai hari ini masih menggema: Kenapa Allah tidak menjodohkan mereka?

Qais bin Al-Mulawwah jatuh cinta pada Layla binti Mahdi sejak kecil. Cintanya tulus, hingga ia dijuluki “Majnun Layla”, orang gila karena Layla. Layla pun membalas cinta itu dengan ketulusan yang sama.

Namun adat, keluarga, dan tekanan sosial memisahkan mereka. Ayah Layla menikahkannya dengan pria lain demi menjaga nama baik keluarga. Qais pun mengembara di padang pasir, meratapi cinta yang tak sampai.

Menanggapi kisah legendaris ini, Ustadz Nuzulul Qur’an memberikan perspektif mendalam. Menurutnya, perpisahan itu bukan bentuk kebencian Tuhan.

“Cinta mereka diuji bukan karena Allah benci, tapi karena Allah ingin menunjukkan cinta yang lebih tinggi dari sekadar memiliki,” kata Ustadz Nuzulul Qur’an, Kamis (29/10/2026).

Dalam Islam, jodoh adalah takdir. Tapi takdir bukan berarti semua yang kita cintai harus kita miliki. Allah melihat apa yang tidak kita lihat.

Jika Qais dan Layla dipaksakan bersatu, bisa jadi cinta mereka habis dimakan rutinitas, cemburu, dan masalah rumah tangga. Justru karena tak bersatu, cinta mereka disucikan oleh jarak, rindu, dan pengorbanan.

“Kadang Allah tidak memberi karena Dia sedang melindungi. Kadang Allah menunda karena Dia sedang menyiapkan yang lebih baik. Kadang Allah menolak karena Dia ingin kita bergantung hanya kepada-Nya,” ujarnya.

Dari tragedi cinta ini, ada tiga pelajaran penting yang bisa dipetik.

Pertama, cinta sejati tidak menuntut memiliki. Qais tetap mencintai Layla bahkan setelah ia menikah dengan orang lain. Kedua, Allah menguji dengan apa yang paling kita sayang untuk melihat sejauh mana iman dan kesabaran kita. Ketiga, ada cinta yang ditakdirkan menjadi legenda, bukan menjadi pasangan, agar menjadi pelajaran bagi jutaan manusia setelahnya.

Qais meninggal karena rindu. Layla menyusul tak lama kemudian. Mereka tak bersatu di dunia, tapi nama mereka bersatu dalam syair, kitab, dan hati manusia hingga hari ini.

Tentu, ini bukan berarti kita harus pasrah jika cinta tak direstui. Islam tetap mengajarkan ikhtiar, istikharah, dan komunikasi dengan wali.

Tapi ketika semua usaha sudah dilakukan dan Allah tetap tidak menakdirkan bersatu, di situlah ujian keimanan dimulai. Sebagaimana firman Allah: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu,” (QS. Al-Baqarah: 216).

Akhirnya, Qais dan Layla tidak dijodohkan di dunia, agar cinta mereka tidak terkotori dunia. Allah menyimpannya sebagai bukti bahwa ada cinta yang terlalu suci untuk dirusak oleh perpisahan, cemburu, atau maut.

(Aldi S)

More To Explore

Fashion

Barakallah Fii Umrik! Pimred Liputanjatimbersatu Beri Doa Tulus di Ultah ke-35 Putri Abdul Munif

SIDOARJO, LiputanJatim Bersatu.com- Suasana penuh bahagia menyelimuti insan media Jawa Timur. Pimpinan Redaksi liputanjatimbersatu.com, Imam Arifin, menyampaikan ucapan selamat dan doa tulus kepada Wulan Oktaviani, putri tercinta dari Bapak Abdul Munif, Pimpinan Redaksi locusdelictinews.com, yang merayakan anniversary ke-35 tahun. Momen ini menjadi bentuk apresiasi dan silaturahmi antar media di Jawa

Fashion

Mengapa Allah Tidak Menjodohkan Qais dan Layla? Cinta yang Terlalu Suci Untuk Dunia

Surabaya, LiputanJatimBersatu.com Kisah Qais dan Layla sudah berabad-abad menjadi simbol cinta paling tragis dalam sejarah sastra Arab dan Islam. Saling mencintai, saling merindukan, tapi tak pernah bersatu dalam pernikahan. Lalu muncul pertanyaan yang sampai hari ini masih menggema: Kenapa Allah tidak menjodohkan mereka? Qais bin Al-Mulawwah jatuh cinta pada Layla